ALTERNATIF DINAMIKA KEBUNTUAN KAMPUS





Oleh : Elan Suherlan
Sekarang tidak dapat disangsikan lagi kehidupan kampus masih jauh dari yang dicita-citakan bersama sebagai basis gerakan intelektual. Kehidupan kampus kini mengalami stagnasi dialektika pemikiran di kalangan aktifis kampus.

Organisasi kemahasiswaan (ormawa) sebagai wadah pengembangan mahasiswa dalam minat dan bakat keilmuan juga terjebak pada rutinitas kegiatan organisasi projec program kerja, yang seolah tak dapat dibedakan dengan event organaizer. Dikatakan mengalami stagnasi karena dalam praktek kegiatan organisasi sudah tidak menampak lagi geliat untuk melahirkan budaya intelektual kritis yang progresif. Bila ada pun itu sebatas pada formalitas yang temporal sebagai pelengkap bunga organisasi dan tidak berjalan secara kontinueyang dapat melahirkan satu konsepsi dalam memnbangun dinamika kampus. Atau hanya dilakukan oleh satu kelompok organ kampus, sehingga penalaahan muatan pembahasan tidak bejalan mendalam dan hanya di lihat dari satu sudut persepektif.

Persolaan-pesoalan mandegnya dinamika kampus, seharusnya dapat diselesaikan dengan adanya sebuah kratitifitas budaya dialog (tertulis maupun tidak tertulis)yang dilaksanakan secara integral dari semua komponen masyarakat kampus. Baik organasasi intra ataupun organisasi ekstra. Agar budaya intelektual kritispun tumbuh kembali dalam lingkunagan kehidupan kampus. Namun kemudian yang menjadi persoalaan adalah hal seperti ini ditanggapi dengan sudut pandang persepektif negatif. Di mana dimulainya kecurigaan antar sesama aktifis. Di satu sisi wajah kehidupan kampus mengalami kemandulan dalam dialektika intelektual. Di sisi yang lain tidak ada keterbukaan dialog yang semakin menambah terpelosoknya konstruksi pemikiran yang kritis. Hanya karena persoaalan yang sangat kecil yang tidak memiliki efek positif.
Ketidakterbukaan dialog ini tidak dilatarbelakangi kerangka berfikir cerdas seperti halnya seorang mahasiswa yang selalu mengedepankan dialog, namun lebih menampakan egosentris organ dan golongan. Yang ada didalam merasa bahwa kampus adalah miliknya secara golongan dengan mengatasnamakan statuta sebagai alat apologi dalam kebenaran subjektif. Dan satu lagi yang merasa memiliki dan berkepentingan dalam dinamika kampus tidak memiliki tempat. Kasus ini sejenak mengingatkan pada persolaan yang menimpa persepakbolaan yang di tanah air. Sungguh aneh namun nyata adanya. Bergelit karena sebuah ketakutan yang sama sekali tidak mendasar, di tengah kehidupan kampus yang sedang stagnan dan krisis intelektual.
Seharusnya membangunkan kembali dinamika kampus tidak hanya disikapi dengan saling melakukan pembenaran pada masing –masing organ. Karena sebuah persepektif pemikiran tidak dapat diseragamkan satu warna pemikiran. Karena pada hakekatnya sebuah perbedaan adalah sebuah kekayaan dalam membangun kekuatan intelektual kampus. Sehingga kampus sebagai basis masa intelektual kampus kembali pada khitoh perjuangan yang telah disematkan kepada mahasiswa sebagai agent of moral force. Fungsi inilah yang seharusnya lebih penting menjadi perhatian di tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Dan juga ketidakhadiran pemimpin dalam mengemban tugas negara.
                                      
Dalam melakukan konstruksi pemikiran untuk menuju dinamika kampus yang kritis dan progresif sesuai dengan jargon kampus “Wacana Keilmuan Dan Keislaman” perlu suatu pengembangan dalam bentuk dialog. Dialog ini sendiri dituntut untuk berjalan secara cerdas, atau jika tidak ini sendiri tidak akan menghasilkan pemikiran yang kreatif.  Dialog cerdas saja tidak cukup, jika hanya dilakukan oleh satu golongan dan hanya berhenti pada tanda tanya. Dialog ini dapat berbuah jika tidak dilakukan secara integral oleh semua kelompok sehingga suatu persoalaan dapat dilihat berbagai persepektif dan dapat mengahsilkan titik konklusi konsepsi sebagai benang merah kusutnya kampus yang mandul pemikiran dalam kalangan aktifis kampus.

Saya kira bila dialog integal ini dapat menjadi kesadaran bersama, tidak menutup kemungkinan cita – cita dalam membangun dinamika kampus yang stagnan ini akan menjadi satu keniscayaan. Karena pada dasarnya kesadaran adalah sebuah nilai dari setiap manusia yang terbebaskan dari belenggu konstruksi sosial yang mentradisi. Upaya – upaya inilah yang akan menepis semua perbedaan perspektif, dan bukan berarti satu dalam menyikapi kampus untuk cita-cita bersama atas nama kepentingan mahasiswa dan masyarakat. Dengan inilah sebuah perbedaan antara  persamaan (ekualitas) dan persaudaraan (brotherhood) sangat jelas. Persamaan adalah sebuah istilah hukum, sedangkan persaudaraan merupakan penegasan esensi yang identik dalam sebuah umat manusia terlepas dari latar belakang organ, suku, ras dan asalnya.
Bila persoalan ini tidak menjadi satu kesadaran bersama untuk mengembalikan pada posisi kampus yang ideal. Boleh dikatakan kalau kita adalah golongan orang – orang yang terkunggung dalam sebuah ketakutan dan budaya konserfatif yang tidak menginginkan sebuah progresifitas dalam berfikir dan bergerak. Atau kesadaran yang ada hanya masih sebatas pada kesadaran naif dan kesadaran gerakan progresifitas intelektual hanya ada dalam dunia ide onani pemikiran.
Ini adalah kritik bersama yang merupakan satu bentuk upaya untuk melakukan gerakan pembaharuan dalam menghadapi persoalan stagnasi pemikiran yang melanda dunia kampus. Semoga kita semua akan tercerahkan. Tangan Terkepal Maju Kemuka ,Abadi Perjuangan... LAWAN..LAWAN...LAWAN !!!
                                                 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DRAMA SIKSA KUBUR

PERMAINAN TRADISIONAL DARI BUDAYA MENJADI KARAKTER